HURU-HARA SAAT JATUHNYA METEOR DI AKHIR ZAMAN
Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak pembaca untuk meluruskan anggapan tersebut dan anggapan yang semisalnya. Redaksi ingin mengajak pembaca untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan sebenarnya yang lebih masuk akal dan sesuai dengan apa yang ditegaskan Alloh Subhanahu wata’ala di dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam dan dari Shahabat Radhiyallohu ‘anhumam.
Saya akan menampilkan beberapa atsar dari generasi Shahabat dan Salaful Ummah. Diantaranya adalah Husein bin Ali bin Abu Thalib Radhiyallohu ‘anhuma, Ka’ab Radhiyallohu ‘anhu dan Ali bin Abdulloh bin Abbas Radhiyallohu ‘anhu. Dikatakan oleh para Salaf bahwa diutusnya Imam Mahdi akan ditandai dengan munculnya bintang berekor dan nyala api yang membesar dari arah timur.
ANTARA AD-DUKHAN DAN DIUTUSNYA IMAM MAHDI
Dari Ali bin Abdulloh bin Abbdas Radhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Al-Mahdi tidak akan keluar sampai munculnya tanda yang menyertai terbitnya matahari.”[1]
Dari Husein bin Ali bin Abu Thalib Radhiyallohu ‘anhuma, dia berkata, “Apabila kalian melihat tanda di langit, api besar dari arah timur, muncul selama beberapa malam, maka pada saat itu orang-orang menjadi lapang, karena itu adalah—tanda—kedatangan Al-Mahdi p.”[2]
Dari Ka’ab Radhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Dan sebuah bintang yang dilemparkan menerangi sebagaimana meneranginya bulan. Kemudian bintang itu menggulung dirinya sebagaimana menggulungnya ular, sehingga kedua ujungnya hampir bertemu (bintang berekor, red)…”
“Dan bintang yang dilemparkan dengannya menjadi panah yang menukik dari langit, diiringi dengan suara yang keras hingga jatuh di wilayah timur, malapetaka besar menimpa manusia karenanya.”[3]
Atsar-atsar yang diriwayatkan dari Salafus Shalih, baik dari kalangan Shahabat atau Tabi’in, maupun selain mereka menambah jelas dua atsar yang shahih dari Ali bin Abdulloh bin Abbas Radhiyallohu ‘anhu dan Husain bin Ali bin Abu Thalib Radhiyallohu ‘anhuma. [4] Seluruhnya menguatkan tentang peristiwa yang membawa sebab munculnya Ad-Dukhan dan rangkaian peristiwa besar selanjutnya, termasuk diutusnya (baca: dibai’atnya) Imam Mahdi untuk kaum muslimin.
Menurut referensi sebagaimana yang disebutkan oleh Salafus Shalih, menunjukkan bahwa bintang berekor itu beredar di dekat orbit bumi dan garis edarnya. Hal itu terjadi dalam beberapa waktu, sehingga seluruh penduduk bumi dapat melihat cahaya yang dimunculkan oleh bintang itu. Kemudian bitang berekor itu kian mendekat dan menukik jatuh ke wilayah bumi bagian Timur yang diiringi suara keras.
Hal ini seolah menunjukkan, bahwa telah terjadi gesekan bintang berekor dengan lapisan atmosfir bumi, sehingga menimbulkan suara yang keras sebelum akhirnya jatuh menghajar bumi. Pada saat itulah malapetaka besar akan menimpa umat manusia seluruhnya. Ahli astronom pernah menyebutkan, bahwa dalam peristiwa jatuhnya meteor ke bumi itu cukup untuk menciptakan awan tebal dengan asap yang bertumpuk-tumpuk, yang akan menutupi pandangan ke arah matahari, baik secara parsial maupun secara total.
Sampai disini, pada dasarnya tidak ada riwayat yang menyebutkan secara lugas bagaimana proses munculnya Ad-Dukhan. Akan tetapi, secara umum malapetaka besar itu ditegaskan dalam beberapa riwayat, sebagai suatu peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman. Yang kemudian disusul dengan petaka besar yang menimpa manusia seluruhnya, tanpa terkecuali. Sampai-sampai diantara salah satu riwayat Ka’ab Radhiyallohu ‘anhu menyebutkan bahwa sangat ditekankan jika tanda bintang itu muncul, agar segera mempersiapkan perbekalan selama 1 tahun.
SAAT BADAI KABUT ITU TIBA
Jika mengamati firman Alloh Subhanahu wata’ala di dalam Surah Ad-Dukhan ayat ke-10, “Maka tunggulah ketika langit membawa kabut yang nyata.” Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa datangnya Ad-Dukhan itu didatangkan dari arah langit. Dan ia adalah suatu ketetapan yang pasti terjadi. Sebagai siksa yang pedih.
Hampir senada dengan firman Alloh Subhanahu wata’ala dalam ayat yang lain, “Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan, ‘Itu adalah awan yang bertumpuk-tumpuk’.” [Ath-Thur: 44] dan juga firman Alloh Subhanahu wata’ala, “Dan apabila bintang-bintang itu berjatuhan.” [At-Takwir: 2]
Adapun api yang membesar dari arah Timur, tidak diketahui secara pasti bagaimana ia terjadi. Namun jika mengamati atsar yang disebutkan oleh Shalafus Shalih, bahwa api itu muncul setelah jatuhnya bintang berekor ke permukaan bumi dengan hantaman yang sangat keras, sehingga api yang diakibatkan oleh bintang berekor akan menghasilkan kerusakan parah seperti kawah besar dan kebakaran hebat yang terjadi di wilayah sekitarnya.
Kemudian akan disusul dengan meluapnya lahar panas dari perut bumi melalui meletusnya gunung-gunung vulkanik yang aktifitasnya mungkin akan meningkat dikarenakan hantaman kuat bintang berekor. Sehingga, selanjutnya akan menyebabkan lahar panas itu menyembur keluar, membakar segala yang ada di dekatnya dan memunculkan bencana besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Inilah peristiwa yang sangat mungkin terjadi dimana gunung-gunung vulkanik meledak secara bersamaan dan sambut menyambut. Jika ledakan hebat gunung vulkanik itu terjadi di dasar laut, jelas keadaan ini akan memunculkan tsunami yang dahsyat dan banjir bandang di banyak negeri. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi selain dari yang telah kami sebutkan. Dengan demikian bahwasanya kemunculan Ad-Dukhan itu selain ia datang dari langit, ia juga datang dari semburan gunung berapi yang terdapat di banyak tempat di muka bumi. Dan hal ini lebih khusus lagi ternyata gunung vulkanik banyak terdapat di kawasan Asia. Wallohu a’lam.
Jika dalam peristiwa ngebulnya Gunung Kelud dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dapat menyebabkan kabut putih tebal hingga Yogyakarta dalam beberapa hari. Maka bagaimana jika seluruh gunung vulkanik mengalami hal yang serupa di setiap negeri? Tidak menutup kemungkinan, munculnya Ad-Dukhan akan berkesinambungan dalam kurun waktu berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun. Maka, bagaimana manusia akan hidup dan menjalani aktifitas sosialnya seperti sedia kala? Dan dengan apa mereka hidup? Segala sarana transportasi dan aktifitas layanan sosial akan ditutup. Setiap orang tak lagi bisa mengandalkan bantuan sosial dari siapapun, melainkan mereka hanya bisa memohon perlindungan kepada Alloh Subhanahu wata’ala. Padahal, sebelum kemunculan Ad-Dukhan itu, keadaan bumi sudah babak belur di hantam oleh bintang-bintang yang jatuh atau berekor dengan dahsyatnya, yang jatuhnya diiringi dengan suara yang sangat keras.
Sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa tanda bintang berekor yang akan menghantam bumi adalah pertanda akan datangnya Imam Mahdi dan akan dibai’atnya beliau oleh kaum muslimin diatara 2 rukun Ka’bah di Makkah. Dengan demikian, menjadi jelas, bahwa awal kepemimpinan Imam Mahdi akan diiringi oleh peristiwa-peristiwa dahsyat dan petaka besar yang menimpa penduduk bumi sebelah Timur (Wilayah Asia—Wallohu a’lam, red). Oleh karenanya, penduduk timur ini akan menjadi penduduk yang paling merasakan ganasnya peristiwa jatuhnya bintang berekor. Kemudian, bagaimana api itu membesar dan melahap segala apa yang ada di dekatnya dengan ganas. Kehancuran dan kerusakan parah terjadi di banyak negeri secara bersamaan. Petakanya tidak cukup berhenti sampai disitu, akan tetapi semakin parah dan menyiksa ketika disusul lagi dengan peristiwa munculnya kabut (Ad-Dukhan) dari berbagai arah dan dari segala bentuk faktor penyebabnya. Yang dengan munculnya kabut ini, akan mengazab setiap orang yang ada di seluruh penjuru bumi. Sebuah azab yang tidak segera sirna melainkan setelah berbulan-bulan, atau bahkan beberapa tahun.
Sejak hari itu, petaka besar akan dimulai. Masing-masing person akan merasakan kesulitan hidup yang hebat (menganggur tidak menentu, putusnya aliran listrik, berehentinya layanan sosial, dll). Dan juga sulitnya mempertahankan hidup serta munculnya berbagai macam wabah penyakit. Tak ada bantuan sosial sedikitpun yang digelontorkan oleh pemerinah. Justeru setiap penguasa zalim dan antek-anteknya akan disibukkan oleh urusan mereka sendiri. Jika dalam keadaan lapang hari ini mereka enggan sekali memperhatikan nasib rakyat, maka bagaimana jika peristiwa Ad-Dukhan itu di datangkan? Jika manusia pada hari ini yang notabenenya mereka masih dalam keadaan lapang, namun mereka senantiasa dan tidak henti-hentinya menzhalimi orang lain, membohongi rakyat, maka bagaimana jika peristiwa Ad-Dukhan itu di datangkan?
Pada hari itu, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan perut menjadi tujuan yang membuat orang menjadi kalap dan ganas, dan akan membuat mereka tidak peduli dengan siapa mereka akan beburusan. Yang penting kebutuhan mereka harus terpenuhi. Lantas, bagaimana mereka yang ketika itu memiliki akses terhadap persenjataan kemiliteran dan sajam? Sementara jika menengok hari ini saja, mereka-mereka sudah berani bersikap arogan dan main begal sana-sini. Tak bisa dibayangkan, jika dalam kondisi seperti itu mereka adalah orang-orang yang sedari awal memang bodoh dan jahiliyah terhadap petunjukkan ilmu Syar’i.
Ketika dulu peristiwa kabut yang keluar dari gunung Kelud, banyak orang yang mengait-ngaitkan peristiwa itu dengan dunia klenik atau perdukunan. Berbagai macam versi keyakinan jahiliyah dan syirik yang menyebutkan jika si empunya Kelud sedang marah, atau kekurangan tumbal dan segala bentuk keyakinan syirik dan jahiliyah yang menyebar luas terkait peristiwa itu. Lantas, bagaimana keadaannya orang-orang yang minim pemahamannya terhadap Dien Islam, ketika datangnya peristiwa Ad-Dukhan? Bukannya mereka segera bertaubat, namun boleh jadi keyakinan-keyakinan yang berbau mistik dan syirik semakin menjamur. Dan keadaan manusia pada saat datangnya Ad-Dukhan adalah mereka dalam keadaan lalai dan minim pengetahuannya terhadap ilmu Syar’i yang bersih dari noda-noda syirik dan jahiliyah. Sementara itu Ruwaibidhah dan para penggemar klenik makin subur dalam memberikan tipuan-tipuan dan iming-iming. Bagi mereka pedoman hidup adalah yang masuk akal menurut mereka, yang magic dan praktis.

Sebelum
letusan 1883, aktivitas seismik di sekitar Krakatau sangat tinggi,
menyebabkan sejumlah gempa bumi yang dirasakan hingga ke Australia. Pada
bulan Mei, pelepasan abu vulkanik mencapai ketinggian hingga 6 km dan
suara letusan terdengar hingga ke Jakarta, yang berjarak 160 km dari
Krakatau. Letusan kembali terjadi pada 16 Juni, yang menimbulkan letusan
keras dan menutupi pulau dengan awan hitam tebal selama lima hari.
Letusan demi letusan terus terjadi hingga puncaknya pada bulan Agustus,
Gunung Krakatau memuntahkan laharnya dengan ketinggian 1,086 km/jam.
Letusan tersebut begitu kuat sehingga memecahkan gendang telinga para
pelaut yang sedang berlayar di Selat Sunda. Rekaman barografis
menunjukkan bahwa gelombang kejut dari letusan terakhir bergema ke
seluruh dunia sebanyak 7 kali. Ketinggian kabut asap diperkirakan
mencapai 80 km. Kabut debu Gunung Krakatau mencapai Eropa bebebapa bulan
kemudian.
Tak ada pembatas dan penghalang bagi mereka untuk melakukan segala bentuk kejahatan dan kebejatan. Apa saja yang terbesit dalam hati dan pikiran mereka, mereka pasti akan melakukannya. Semuanya sudah kacau. Sampai-sampai selaras dengan apa yang pernah disebutkan dalam hadits Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, “Ketika seseorang, sudah tidak lagi merasa aman dengan sahabatnya.”
Masing-masing orang akan diterpa oleh keadaan yang tidak menentu. Masing-masing mereka sudah selayaknya serigala yang lapar. Masing-masing orang akan diliputi oleh rasa iri dan dengki untuk menguasai harta saudaranya, demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Apapun caranya, mereka akan mencoba memikirkannya siang-malam. Kalaupun harus dengan pembunuhan mereka akan melakukannya. Dan kita telah menyaksikan, hal itu sudah mulai terjadi hari ini.
Ketika siang hari suhu akan terasa panas, karena tertutupi oleh kabut yang tebal, sementara malam harinya akan menjadi gelap gulita dan sulitnya mendapatkan penerangan. Inilah dia, gerbong kereta yang dulunya adalah gerbong kereta bisnis dengan segala fasilitas yang menggiurkan semua orang. Sekarang, semua itu tidak lebih dari sekedar onggokan besi tua. Bahkan jika dirosokkan pun tak akan ada yang berminat dengannya. Jurang dalam dan gelap membuat orang yang ketika dulu mendustakan Ayat-ayat Alloh Subhanahu wata’ala merasakan bagiannya.
Pada saat itu juga, kaum egois dan opportunis bermunculan, saling sikut dan berebut pada tahta untuk melanggengkan kebutuhan hidup mereka. Hukum rimba pun berlaku di sana. Sesama mereka tumbuh subur firasat dan keinginan untuk saling membunuh dan saling menguasai.
Setiap nilai uang kertas jatuh tak berarti, sebab setiap negara thagut akan hancur tak berarti. Yang bernilai pada saat itu adalah butiran-butiran emas, perak dan intan yang memiliki nilai otentik yang benar-benar real. Tak ada lagi transportasi, darat laut dan udara, bahkan pesawat secanggih apapun tidak akan ada yang beroperasi.
Pada saat yang sama, ketika di belahan bumi yang lain telah terjadi chaos, hukum rimba, fitnah, kesyirikan dan harj, maka lain halnya dengan apa yang terjadi di Jazirah Arab dan bumi Syam, sebagai tempat di mana Imam Mahdi dan pengikutnya melebarkan sayapnya. Walaupun sama-sama diterpa oleh badai kabut yang tebal, kali ini keadaannya menjadi lain. Alloh Subhanahu wata’ala telah menyinari mereka dengan Ilmu Syar’i, sebagai petunjuk untuk mengarungi kehidupan dan mengokohkan pilar-pilar Daulah Islam yang telah dibangun oleh kaum muslimin sebelumnya. Ketika terjadi berbagai fitnah dan kehancuran di seluruh penjuru bumi, maka iman tertancap dan menetap di Syam. Kaum muslimin akan diliputi cahaya keimanan yang terang benderang di sana, sebagai tonggak kehidupan yang akan menuntun mereka kepada jalan yang lurus. Itulah diantara janji Alloh Subhanahu wata’ala yang pernah disebutkan oleh Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam, “…Ketahuilah, sesungguhnya iman pada saat terjadi fitnah berada di Syam.”[5]

Debu vulkanik yang dihasilkan oleh gunung
berapi dapat memicu munculnya badai petir yang
menggelegar dan sambut-menyambut. Peristiwa ini
terjadi dikarenakan debu vulkanik yang dilepaskan
ke udara akan melepaskan muatan ion-ion negatif
dan positif. Perbedaan muatan ion yang terintegrasi
dengan kecepatan gerak di udara, suhu dan lain-lain,
pada tahap selanjutnya menyebabkan terpisahnya
antara ion negatif dan positif. Sehingga akan terjadi
beda potensial yang mencetuskan aliran elektron yang
berbentuk petir menggelegar pada awan vulkanik.
berapi dapat memicu munculnya badai petir yang
menggelegar dan sambut-menyambut. Peristiwa ini
terjadi dikarenakan debu vulkanik yang dilepaskan
ke udara akan melepaskan muatan ion-ion negatif
dan positif. Perbedaan muatan ion yang terintegrasi
dengan kecepatan gerak di udara, suhu dan lain-lain,
pada tahap selanjutnya menyebabkan terpisahnya
antara ion negatif dan positif. Sehingga akan terjadi
beda potensial yang mencetuskan aliran elektron yang
berbentuk petir menggelegar pada awan vulkanik.
“…Sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.”[6]
IMAM MAHDI DIBAI’AT SEBAGAI KHALIFAH
Dibai’atnya Imam Mahdi sebagai Amirul Mukminin, Khalifah bagi kaum muslimin di seluruh wilayah, hal ini nantinya akan menyebabkan marahnya raja yang ada di Syam, yang dijuluki dengan julukan Sufyani.[7]
Kabar dibai’atnya Imam Mahdi sebagai pemimpin kaum muslimin yang akan mengetuai berbagai wilayah yang akan ditaklukkan, akan menyulut raja Sufyani yang ketika itu bercokol di Syam. Keberadaan Imam Mahdi dianggapnya sebagai orang yang merebut kekuasaan Sufyani, yang karenanya raja Sufyani mengirim bala tentara untuk membunuh Imam Mahdi yang dianggap sebagai pemberontak. Akan tetapi, justeru pasukan Sufyani dapat dikalahkan oleh mujahidin yang menyertai Imam Mahdi. Kekalahan bala tentara raja Sufyani menjadi prestasi pertama sejak memimpinnya Imam Mahdi, yang kemenangan itu justeru membuat raja Sufyani semakin geram dan mengirimkan bala tentara yang lebih besar dan dengan persiapan yang lebih matang. Maka bagaimana Imam Mahdi dan mujahidin yang menyertainya akan menghadapi gempuran itu?
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, dia bercerita bahwa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang yang dipanggil Sufyani akan keluar dari dalam Damaskus. Kebanyakan dari pengikutnya adalah dari kabilah Kalb (anjing). Ia akan membunuh sehingga perut wanita dibelah dan anak-anak dibunuh. Sehingga kabilah Qais bersatu untuk melawannya, dan ia pun membantai mereka sampai kepada orang yang paling lemah dari mereka. Lantas seseorang dari Ahlul Baitku keluar menuju Harrah. Kabarnya didengar oleh Sufyani, sehingga ia memberangkatkan satu pasukan dari pasukannya. Pasukan ini dapat dikalahkan. Maka Sufyani sendiri berangkat bersama pasukannya. Tatkala mereka sampai di Baidha’ (sebuah wilayah antara Makkah dan Madinah, red) mereka pun ditelan bumi. Tidak ada seorangpun yang selamat kecuali orang yang mengabarkan kejadian itu.”[8]
Setelah peristiwa penenggelaman Sufyani, beserta bala tentaranya yang dalam jumlah sangat besar, hal ini membuat para pemuka Syam dan tokoh-tokoh kaum muslimin dari Iraq mendatangi Imam Mahdi dan membai’atnya. Seluruh orang kaum muslimin dan orang mukmin kini semakin yakin dengan adanya peristiwa penenggelaman raja Sufyani dan bala tentaranya di Baidha. Hal itu adalah pertanda bahwa Imam Mahdi adalah sosok pemimpin akhir zaman yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh kaum Muslimin.
Kemudian peristiwa itu terus berlanjut, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah s, dia bercerita bahwa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “…kemudian datang seseorang dari Quraisy; paman-paman—dari pihak ibunya—adalah bani Kalb. Ia memberangkatkan satu pasukan untuk (membalas kekalahan Sufyani, red) menyerang mereka (Imam Mahdi dan Mujahid yang bersamanya, red), namun mereka (Imam Mahdi dan orang-orang bersamanya) dapat mengalahkan mereka, mereka itu adalah pasukan bani Kalb. Dan merugilah orang yang tidak menyaksikan ghanimah—atas kekalahan—bani Kalb. Lalu harta rampasan itu dibagi-bagi dan diberlakukanlah Sunnah Nabi mereka. Ia (Imam Mahdi) akan menyiarkan Islam ke seluruh penjutu bumi. Ia akan menetap selama 7 tahun, lalu meninggal, dan ia pun dishalati oleh kaum muslimin.”[9]
Dengan demikian, Imam Mahdi mulai menapaki pilar demi pilar Daulah Islam, sebagai pilar yang telah dibangun oleh kaum muslimin sebelumnya. Kemudian pilar-pilar itu dikokohkan oleh beliau dan disempurnakan oleh Imam Mahdi. Sehingga pada tahap selanjutnya ia menjadi bangunan yang kokoh, kuat dan berdiri tegak menjadi Daulah Khilafah Rasyidah ‘Ala Minhajin Nubuwwah dalam arti dan praktek yang sebenar-benarnya. Sebagaimana janji yang disabdakan oleh Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam.
Inilah era baru kepemimpinan Umat Islam. Dan serangkaian peristiwa-peristiwa besar pun akan terjadi secara susul menyusul dengan cepat dalam kurun 7-9 tahun, sesuai dengan perhitungan masa menetapnya Imam Mahdi. Hingga mereka akan memerangi Dajjal bersama Nabi Isa p pada akhir-akhir masa menetapnya Imam Mahdi.
Peristiwa demi peristiwa besar senantiasa mengiringi gerak langkah Imam Mahdi dan mujahid yang menyertainya. Dalam masa menetapnya Imam Mahdi, para pengikut setianya senantiasa menyertai dalam setiap pertempuran demi pertempuran. Untuk menaklukkan seluruh Jazirah Arab, Iraq, Syam, Pembebasan Baitul Maqdish (Masjid Al-Aqsha di Palestina), berlanjut kepada penaklukkan Perisa (Iran), dan menyusul pertempuran terbesar di Akhir Zaman; Al-Malhamah Kubra. Sebagai pertempuran paling kolosal antara Kaum Muslimin dan Kaum Salibis Romawi (Eropa dan Amerika).
Terkait dengan peristiwa Al-Malhamah Kubra, saat itu benteng pertahanan kaum muslimin berada di Ghoutah, Damaskus. Sementara kaum salibis Romawi berada di Dabiq, sebuah kawasan di Suriah, yang dekat dengan perbatasan Turki sebelah selatan.
Nanti, setelah Imam Mahdi dan Mujahid yang menyertainya telah meraih kemenangan dalam pertempuran sengit pada Al-Malhamah Kubra, tentara Alloh itu melanjutkan gerak kakinya untuk menaklukkan wilayah yang lainnya. Yaitu menaklukkan Konstantinopel, Roma (Italia) dan Andalusia (Eropa). Hingga semua orang tunduk kepada Dien Islam, dan tidak ada lagi fitnah dan dijadikannya Dien menjadi hak Alloh Subhanahu wata’ala.
Adalah setiap usia yang dilalui oleh Imam Mahdi dan masa menetapnya sebagai Khalifah, senantiasa dihabiskan untuk bertempur dan menundukkan setiap wilayah pada perintah Alloh Subhanahu wata’ala dan untuk ditegakkan padanya Syari’at Islam. Hingga pada tahun-tahun terakhir kehidupan beliau, yaitu sekitar tahun ke-7, Dajjal muncul bersama fitnah syirik dan syubhat yang disebarkannya di antara manusia. Dalam keadaan manusia berada dipuncak kebodohan, di saat itulah mereka dihempaskan dengan telak oleh fitnah Dajjal. Si gembong kekafiran itu dengan mudahnya menggaet pengikut, ketika keadaan dunia jauh dari nilai-nilai Syar’i dan teramat sedikit orang yang mengetahui tentangnya. Pada saat yang sama, seseorang kala itu akan lebih percaya dengan iming-iming magic yang senantiasa disuguhkan melalui sihir-sihir yang dimiliki Dajjal.
Disaat kebanyakan manusia terkapar oleh tipu daya Dajjal melalui sihir dan magic yang dimilikinya. Disaat kebanyakan orang akan lebih percaya dengan kepemimpinan Dajjal yang dinilai sakti, dapat mendatangkan hujan dan menghidupkan orang yang mati. Disaat itu pula peristiwa besar lainnya akan terjadi, yaitu diturunkannya Nabi Isa p di sebelah timur menara putih Damaskus. Yang akan menjadi bagian dari bala tentara Imam Mahdi untuk memerangi Dajjal dan seluruh pengikutnya dari golongan kuffar dan murtad.
Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika Alloh mengutus Al-Masih bin Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damaskus. Dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan Waras dan Za’faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat. Bila ia menundukkan kepala maka menurunlah rambutnya. Dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti mati. Padahal, nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lud, lantas dibununhnya Dajjal…” [HR. Muslim][10]
PACEKLIK YANG SENANTIASA MENGIRINGI MASA MENETAPNYA IMAM MAHDI
Selama terjadi pertempuran dan silih bergantinya peristiwa besar dalam masa pemerintahan Imam Mahdi, kondisi alam di dunia global pun berada pada titik krisis yang sangat genting.
Berbagai paceklik dahsyat menimpa umat manusia. Sebagai paceklik yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Yaitu hari di mana Alloh Subhanahu wata’ala memerintahkan langitnya untuk menahan air hujan, hingga tidak ada satu tetespun air yang jatuh ke permukaan bumi. Dan Alloh Subhanahu wata’ala juga memerintahkan bumi untuk menahan tanaman, sehingga tak satupun tanaman yang tumbuh di permukaan bumi. Sampai terjadi paceklik yang sangat genting dan sangat parah, di mana keadaan bumi menjadi kering kerontang dan kesulitan hidup menimpa setiap orang. Maka lengkaplah sudah siksaan itu didatangkan oleh Alloh Subhanahu wata’ala setelah mereka babak belur dihantam meteor, hidup di punggung bumi yang dipenuhi kabut, pertempuran dan pembunuhan, lantas kini hidup di dunia yang kering kerontang, tak ada air dan tanaman hijau. Keadaan manusia sangat payah, korban jiwa kelaparan berserakan di mana-mana. Setiap orang merasa kesulitan untuk mendapatkan makan dan mempertahankan hidup. Jangankan sesuap nasi, setetes airpun adalah sesuatu yang lebih mahal dari pada kiloan emas.
Sementara itu, kaum muslimin yang menyertai Imam Mahdi menjadikan dzikir mereka kepada Alloh Subhanahu wata’ala sebagai pengganti dari suapan nasi, dan untuk mengisi perut yang kosong. Dzikir mereka selalu mengiringi kehidupan mereka siang dan malam. Lantunan tilawah Al-Qur’an selalu membasahi bibir mereka. Dan dijadikannya Kitab mulia itu sebagai penerang setiap langkah mereka; untuk membedakan Al-Haq dan kebatilan. Adalah sesama mereka saling menasihati dalam kesabaran untuk meniti dan melawati setiap rintangan di atas jalan Al-Haq. Mereka senantiasa seperti itu, dalam kondisi sulitnya hidup di alam terbuka, dalam kemah keimanan atau dalam kecamuknya pertempuran di medan jihad fie sabilillah.
“Sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah tempo waktu 3 tahun yang sangat sulit. Di mana pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat. Alloh memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan 1/3 dari hujannya dan memerintahkan kepada bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya. Kemudian Alloh memerintahkan kepada langit pada tahun kedua untuk menahan 2/3 dari hujannya dan memerintahkan bumi untuk menahan 2/3 dari tanamannya. Kemudian pada tahun ketiga Alloh memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujannya, lalu ia tidak meneteskan setitik airpun dan memerintahkan bumi agar menahan seluruh tanamannya. Maka setelah itu tidak tumbuh satu tanaman hijaupun, dan semua binatang berkuku akan mati kecuali yang dikehendaki Alloh.” Para Shahabat bertanya, “Dengan apa manusia akan hidup pada saat itu?” Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahlil, Takbir dan Tahmid akan sama artinya dengan makanan bagi mereka saat itu.” [HR. Ibnu Majah][11]
Sementara orang-orang kafir yang hidup tanpa disertai ilmu sedikitpun tentang petunjuk Al-Qur’an, mereka tidak hidup melainkan mereka hidup dengan cara-cara binatang. Dikarenakan mereka adalah kaum yang bodoh, selalu berbuat kerusakan dan menolak setiap aturan Syari’at. Kini, mereka benar-benar layaknya binatang yang tidak peduli dengan aturan manapun, apalagi aturan Rabbul ‘alamin, yang sedari dulu mereka anggap sebagai pengekang hawa nafsu birahi mereka.
Sementara itu, Imam Mahdi dan kaum muslimin yang menyertainya senantiasa menghidupkan hari-hari mereka dengan dzikir kepada Alloh dan dengan melakukan penaklukkan negeri-negeri. Yaitu dzikir yang tidak keluar melainkan mereka memahami betul maksud yang terkandung di dalamnya. Karena ilmu Syar’i telah menjadi pegangan mereka dan mereka sudah terbiasa hidup dengan aturan Syari’atNya. Tidaklah setiap dzikir yang dilafazkan, melainkan mereka mengetahui maksud dan perkaranya. Sehingga dzikir ini akan berdampak bagi dirinya, dan bertambah keimanannya kepada Alloh Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu ia tidaklah sama dengan dzikir-dzikir yang disebut-sebut untuk meraih jumlah-jumlah yang “ter” atau “paling” banyak. Sehingga dzikir yang semacam itu hanyalah membuat tenggorokan semakin kering dan membuat orangnya semakin kepayahan. Dikarenan ilmu yang diyakini, dengan jumlah yang berlipat, maka kesaktian akan meningkat. Padahal tidaklah demikian.

Pada
bulan Juli tahun 2011 sempat santer diberitakan musibah kekeringan
besar di wilayah Afrika. Dilaporkan dalam masa packlik di tahun itu
menyebabkan puluhan ribu orang tewas, dan ratusan orang meninggal setiap
harinya. Padahal ketika itu Alloh belum memerintahkan hujan untuk
menahan seluruh airnya, dan belum memerintahkan kepada bumi untuk
menahan seluruh tanamannya. Maka bagaimana keadaannya jika Alloh
Subhanahu wata’ala telah memerintahkan langit untuk menahan airnya dan
memerintahkan bumi untuk menahan seluruh tanamannya? Tidak akan bisa
dibayangkan sulitnya bertahan hidup dan mengarungi pertempuran.
Nabi Isa p akan mematahkan setiap salib yang ada di muka bumi sebagai pertanda sesatnya agama kaum salibis. Kemudian beliau juga akan membunuh seluruh babi yang ada di muka bumi. Nabi Isa p juga menjadi perantara dibunuhnya Dajjal. Peristiwa berlalu sangat cepat dan diantara perjalanan Imam Mahdi terdapat banyak sekali bala tentaranya dari orang-orang yang Mukmin yang jujur dalam keimanannya kepada Alloh Subhanahu wata’ala, yang mereka terbunuh sebagai sebaik-baik Syuhadaa’.
Peristiwa terus bergulir, hingga Alloh Subhanahu wata’ala berkenan untuk menurunkan hujan yang sangat deras, yang menjadi sumber penghidupan diatas hamparan bumi yang sudah kering kerontang. Yang dengannya pula akan menghidupkan bumi setelah kematiannya. Wallohu a’lam
Demikianlah, dengannya sekarang menjadi jelas, bahwa rentetan peristiwa sesaat sebelum datangnya Imam Mahdi, masa menetapnya, hingga wafatnya beliau, sama sekali tidak menunjukkan bahwa kehidupan di masa itu penuh dengan kenikmatan, kemewahan dan kedamaian menurut takaran duniawi dan lahiriyyah semata. Namun, justeru banyak terjadi petaka bagi orang-orang munafik dan kafir, selain juga sebagai ujian bagi orang-orang Mukmin. Bersama putaran roda waktu yang diiringi dengan paceklik, keguncangan dan musibah, Imam Mahdi dan bala tentaranya melakukan penaklukkan ke banyak negeri. Yang melalui peristiwa pepeperangan dan penaklukkan itu, Alloh Subhanahu wata’ala hendak mengambil diantara hambanya yang beriman sebagai sebaik-sebaik Syuhadaa’ di sisiNya. Dan dengan peristiwa itu pula, Alloh Subhanahu wata’ala hendak menguji diantara hambaNya, siapakah diantara mereka yang jujur dalam keimanannya kepada Alloh Subhanahu wata’ala dan ikhlas berjihad di jalanNya.
Allohl bermaksud untuk membongkar kedok orang-orang yang selama ini mengklaim sebagai Muslim, atau mengkalim sebagai orang yang beriman kepada Alloh. Namun mereka sebenarnya adalah orang-orang yang berdusta dalam pengakuannya dan mereka membenci Syari’atNya, bahkan lebih cenderung kepada kebebasan cara kebinatangan.
Kita memohon kepada Alloh Subhanahu wata’ala, agar dia berkenan menjadikan kita diatara bala tentara yang mengokohkan pilar Daulahnya Imam Mahdi. Atau jika tiba masanya, Dia memperkenankan kita untuk menjadi bagian dari bala tentaranya yang akan membai’atnya nanti, dan yang menyertainya dalam setiap peperangan di akhir zaman. Semoga Alloh Subhanahu wata’ala memperkenankan kita menjadi sebaik-baik Syuhadaa’ yang bertempur gigih dalam medan laga, untuk meninggikan KalimatNya dan tidak menoleh kebelakang untuk murtad seraya lari dari medan pertempuran. Oleh karenanya, setelah mengetahui bagaimana gambaran hidup ketika Imam Mahdi itu diutus, dan bagaimana fitnah dan petaka menimpa manusia di belahan bumi yang jauh dari garis edarnya Imam Mahdi, karenanya Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita sebagaimana dalam sabdanya berikut:
“…Kemudian muncullah bendera-bendera hitam (Bendera bertuliskan Kalimat Tauhid—Al ‘Uqab, red) dari arah timur, lantas mereka membunuh kalian dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelum kalian… Maka, jika kamu melihatnya, berbai’atlah kepadanya walaupun harus dengan merangkak diatas salju.”[12]

[1] HR. Abu Dawud, Kitab Al Malahim, no. 4275; HR. Ibnu Majah, Kitab Al-Fitan, no. 4093
[2] ‘Uqad Ad-Durar, 106
[3] Nu’aim: Al-Fitan, 160, muhaqiq kitab ini menyebutkan bahwa jalur periwayatannya hasan
[4] Mengutip dari buku, “Nubuwwat Perang Akhir Zaman” Abu Fatiah Al-Adnani (2014). Solo: Granada.
[5] [HR. Ahmad, no. 18249, 38/298]
[6] Silsilah Ahadits Shahihah no. 974.
[7] Julukan Sufyani itu adalah seperti julukan bagi raja-raja layaknya; Kaisar untuk julukan raja Romawi, Kisra untuk julukan raja Persia, Najasyi untuk julukan raja di Ethiohia, Fir’aun untuk julukan raja di Mesir.
[8] HR. Hakin no. 8732, berliau berkata, “Isnadnya Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.”
[9] Lihat HR Abu Dawud no. 3737, Al-Hakim no 8446 dan Ibnu Hibban no. 6881 dan yang lainnya. Hadits ini dinyatakan Shahih oleh Al-Haitsami, Asy-Syaukani dan Ahmad Syakir. Riwayat atau pendapat yang menyatakan lamanya menetap Imam Mahdi berbeda-beda antara 7 sampai 9 tahun. Wallohu a’lam.
[10] Kitab “Al-Fitan wa Asy-Syarath As-Sa’ah”, bab “Dzikr Ad-Dajjal” 18/67-68.
[11] dan yang lainnya. Lihat pula Silsilah Ash-Shahihah no. 2457
[12] HR. Ibnu Majah no. 4074; HR. Hakim no. 8564
Bagus gan, informasinya sangat detail, sayang banyak typonya��
BalasHapusRating : ★★★★★
Terima kasih banyak atas masukkannya. Sangat membantu sekali.
Hapus